RADIO TUA
Sang cakrawala
mulai menampakan diri dan Pak Omanpun mulai mengawali kesehariannya. Cangkul,
sabit, dan keranjang rumput ia siapkan.” Pak jangan lupa sarapan dulu” Istrinya
mengingatkan “iya bu” jawabnya. Iapun segera menghampiri meja dan menyantap
sarapan yang telah disiapkan, setelah selesai ia meraih peralatan yang telah ia
siapkan dan berangkat. Sambil melangkahkan kaki ia berkata”Bapak pergi dulu”
“iya pak”jawab istrinya. “Pak sepatu Dino rusak” langkahnya terhenti menengar
ucapan anaknya “iya nak, besok Bapak belikan kalau sudah cukup uang” anaknya
tersenyum mendengar ucapan Bapaknya. Dengan semangat yang berapi-api Pak Oman
melangkahkan kaki, tak terasa iapun sampai di ladangnya, ia segera meraih
cangkul dan mulai mencangkul.
Detik
demi detik,menit demi menit,jam demi jam dan hingga sang surya menduduki
singgasana yang sempurna, Pak Oman pun menghentikan aktivitasnya dan melepas
lelah yang melekat dengan meraih segelas air putih dan meneguknya. Dalam
benaknya masih terngiang ucapan anaknya, ia pun bergegas meraih sabit dan
keranjangnya dan berkata “ aku adalah kepala keluarga, aku harus berjuang demi
anak, istri dan mencukupi kebutuhan keluarga kecilku”.
Setelah selesai iapun bergegas pulang, tanpa
di sadari ia telah sampi di rumah. Iapun duduk dan teringat anaknya. “ Ya Allah
aku harus mencari uang kemana ?” ia menengok meja dan menghampirinya, disana
ada sebuah radio tua yang telah termakan usia. “ apa aku harus menjual radio
ini?, tapi ini adalah satu-satunya benda pemberian almarhumah ibu ku dan radio
ini juga selalu menghiburku, istriku dan anakku”. “Hufft.. “ (ia menghela
nafas) “ maafkan Bapak nak, Bapak harus menjual radio ini “ dengan berat hati
ia berjalan menuju toko, sampai disana iapun menjualnya. Harga radio tua itu
tidak seberapa namun cukup untuk membeli sepasang sepatu sekolah anaknya.
Sesampai depan pintu “ Pak itu apa ?” anaknya bertanya “ ini untukmu nak “
jawabnya “ apa Pak ?” “ buka saja “ anaknya pun membuka plastik hitam yang di
sodorkan Bapaknya “ horeee...... aku di belikan sepatu baru....!!!!!!!!!!!!
tapi bapak punya uang dari mana ??? “ iapun berfikir sejenak dan
Menjawab “ sepatu ini bapak belikan dari
uang simpanan bapak nak” “ ia pak” dalam benaknya ia berkata “ bahagiaku bisa
membahagiakan anak dan istriku, sedihku tidak bisa membahagiakan mereka “.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar