Selasa, 08 Oktober 2013

Cerpen



RADIO TUA

Sang cakrawala mulai menampakan diri dan Pak Omanpun mulai mengawali kesehariannya. Cangkul, sabit, dan keranjang rumput ia siapkan.” Pak jangan lupa sarapan dulu” Istrinya mengingatkan “iya bu” jawabnya. Iapun segera menghampiri meja dan menyantap sarapan yang telah disiapkan, setelah selesai ia meraih peralatan yang telah ia siapkan dan berangkat. Sambil melangkahkan kaki ia berkata”Bapak pergi dulu” “iya pak”jawab istrinya. “Pak sepatu Dino rusak” langkahnya terhenti menengar ucapan anaknya “iya nak, besok Bapak belikan kalau sudah cukup uang” anaknya tersenyum mendengar ucapan Bapaknya. Dengan semangat yang berapi-api Pak Oman melangkahkan kaki, tak terasa iapun sampai di ladangnya, ia segera meraih cangkul dan mulai mencangkul.

Detik demi detik,menit demi menit,jam demi jam dan hingga sang surya menduduki singgasana yang sempurna, Pak Oman pun menghentikan aktivitasnya dan melepas lelah yang melekat dengan meraih segelas air putih dan meneguknya. Dalam benaknya masih terngiang ucapan anaknya, ia pun bergegas meraih sabit dan keranjangnya dan berkata “ aku adalah kepala keluarga, aku harus berjuang demi anak, istri dan mencukupi kebutuhan keluarga kecilku”.
 Setelah selesai iapun bergegas pulang, tanpa di sadari ia telah sampi di rumah. Iapun duduk dan teringat anaknya. “ Ya Allah aku harus mencari uang kemana ?” ia menengok meja dan menghampirinya, disana ada sebuah radio tua yang telah termakan usia. “ apa aku harus menjual radio ini?, tapi ini adalah satu-satunya benda pemberian almarhumah ibu ku dan radio ini juga selalu menghiburku, istriku dan anakku”. “Hufft.. “ (ia menghela nafas) “ maafkan Bapak nak, Bapak harus menjual radio ini “ dengan berat hati ia berjalan menuju toko, sampai disana iapun menjualnya. Harga radio tua itu tidak seberapa namun cukup untuk membeli sepasang sepatu sekolah anaknya. Sesampai depan pintu “ Pak itu apa ?” anaknya bertanya “ ini untukmu nak “ jawabnya “ apa Pak ?” “ buka saja “ anaknya pun membuka plastik hitam yang di sodorkan Bapaknya “ horeee...... aku di belikan sepatu baru....!!!!!!!!!!!! tapi bapak punya uang dari mana ??? “ iapun berfikir sejenak dan
Menjawab “ sepatu ini bapak belikan dari uang simpanan bapak nak” “ ia pak” dalam benaknya ia berkata “ bahagiaku bisa membahagiakan anak dan istriku, sedihku tidak bisa membahagiakan mereka “.





By.Aisyah

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar